Scroll untuk baca artikel
Iklan Parallax
BeritaBudayaNasionalSejarah

Ahmad Baharudin Hadiri Acara Bersih Desa Di Balai Desa Gedangan

×

Ahmad Baharudin Hadiri Acara Bersih Desa Di Balai Desa Gedangan

Sebarkan artikel ini

Tulungagung, Penasamudra.com Plt bupati Tulungagung Ahmad Baharudin S.M., M.M., menghadiri acara pagelaran wayang kulit di desa Gedangan, Campurdarat pada Sabtu (02/04/2026) dalam rangka acara bersih desa yang diadakan setiap tahun. Rutinitas ini dilakukan tiap bulan Selo (hitungan bulan jawa) untuk melestarikan adat istiadat di era globalisasi modern. Acara tersebut di hadiri juga oleh anggota DPRD Siswantoro perwakilan dari dinas kebudayaan dan pariwisata M. Ardian Candra, Kepala desa se-kecamatan campurdarat, jajaran forkopimcam campurdarat, beserta tamu undangan lainnya.

Pentas wayang kulit ini di dalangi oleh dalang dari kota Tulungagung yaitu Ki Minto Darsono dengan membawakan lakon “Pari Kesit Dadi Ratu”. Pertunjukan berlangsung dengan khidmat sekaligus menghibur, menarik perhatian ratusan warga yang dengan antusias mengikuti jalannya cerita hingga acara pagelaran selesai, dengan diadakan acara ini juga meningkatkan UMKM di sekitar tempat pagelaran wayang kulit dilaksanakan.

Plt Bupati Ahmad Baharudin, S.M., M.M  menyampaikan apresiasi atas komitmen masyarakat Desa Gedangan dalam menjaga kelestarian tradisi yang ada di wilayah setempat, Ia menegaskan bahwa Bersih Desa bukan sekadar agenda rutin maupun perayaan tahunan melainkan memiliki makna mendalam sebagai bentuk rasa syukur sekaligus doa bersama demi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.

Sambutan Plt Bupati Tulungagung dan Doa Bersama di balai desa Gedangan campurdarat.

“Tradisi Bersih Desa atau sedekah bumi merupakan warisan budaya yang mempunyai nilai spiritual dan sosial, hal ini wujud rasa syukur kita terhadap alam sekitar serta memperkenalkan warisan budaya ini kepada penerus kita nanti, selain itu juga bentuk kearifan lokal yang harus terus kita lestarikan di tengah perkembangan zaman,” tegasnya.

Tradisi Bersih Desa sendiri merupakan bagian dari budaya masyarakat agraris yang telah berlangsung secara turun-temurun di berbagai wilayah Jawa, termasuk Tulungagung. Rangkaian kegiatan biasanya diisi dengan doa bersama, kenduri, hingga pagelaran seni tradisional seperti wayang kulit yang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana penyampaian nilai-nilai kehidupan.

Lakon dalam pagelaran ini punya pesan moral dengan gambaran pemimpin muda yang memikul tanggung jawab besar untuk memulihkan kedamaian dan kesejahteraan negeri yang sempat porak-poranda.

Pemilihan lakon ini diharapkan menjadi doa bagi Desa Gedangan agar dipimpin dengan kebijaksanaan dan selalu dinaungi kemakmuran bagi seluruh warganya.

Di akhir sambutannya plt. Bupati tulungagung juga memohon dukungan serta doa restu warga masyarakat tulungagung untuk memberikan dukungan dalam menjalankan program pemerintah yang dapat dirasakan oleh masyarakat dalam membangun kota tulungagung serta dapat meningkatkan kedamaian serta kerukunan dalam bermasyarakat.

” Saya juga memohon doa restu serta dukungan dari semua warga tulungagung, agar saya amanah dan bisa menjalankan program pemerintah tulungagung dalam membangun kemajuan kota tulungagung. Membangun kota ini tidak hanya fisik namun juga mental supaya tulungagung menjadi kota yang lebih baik ” ucapnya.

Harapannya dengan adanya rutinitas kegiatan seperti ini dapat memperkenalkan budaya kepada penerus generasi bangsa untuk tidak melupakan sejarah bangsa. Di sela – sela pertunjukan ahmad baharudin atau yang lebih dikenal dengan sebutan abah juga bercengkrama dengan warga untuk mendengarkan langsung aspirasi masyarakat tulungagung.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *