Tulungagung, Penasamudra.com Kabupaten Tulungagung menggelar acara adat istiadat yang sudah berjalan bertahun – tahun yaitu jamasan pusaka tombak kiai upas yang di selenggarakan tiap tanggal 11 sampai dengan 20 bulan sura. Acara ini kembali digelar tradisi Jamasan Pusaka Tombak Kanjeng Kyai Upas pada Jumat (3/7/2026) bertepatan dengan bulan Suro.
Tombak Kanjeng Kyai Upas dipercaya sebagai pusaka peninggalan Ki Ageng Mangir yang kemudian diwariskan kepada para bupati Tulungagung secara turun-temurun. Pusaka tersebut memiliki keterkaitan erat dengan sejarah berdirinya Kabupaten Tulungagung yang sebelumnya dikenal sebagai Kadipaten Ngrowo.
Prosesi tersebut juga dihadiri Plt. Bupati Tulungagung H. Ahmad Baharudin, Ketua DPRD Kabupaten Tulungagung, Penjabat Sekretaris Daerah, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para camat se-Kabupaten Tulungagung, perangkat Kelurahan Kepatihan, paguyuban kebudayaan, tokoh penghayat kepercayaan, tokoh adat, serta masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Kirab Nawa Tirta dari Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso menuju Dalem Kanjengan. Air dari sembilan sumber mata air tersebut kemudian digunakan dalam prosesi penyucian atau jamasan Pusaka Tombak Kanjeng Kyai Upas.
Sebelum prosesi jamasan dilakukan, terlebih dahulu dilaksanakan identifikasi terhadap pusaka berupa pengukuran panjang tombak serta pemeriksaan kondisi fisik pusaka. Selanjutnya, air Nawa Tirta yang telah dicampur dengan bunga tujuh rupa digunakan untuk membasuh bilah tombak sebagai bentuk perawatan agar terhindar dari karat sekaligus menjadi simbol penyucian.
Plt. Bupati Tulungagung dalam prosesi ini juga menjelasakan bahwasanya acara ini bukan hanya acara rutinitas tiap tahun, ini juga merupakan cara menghargai sejarah budaya dalam warisan leluhur, serta pelestarian budaya sekaligus perawatan pusaka.
“Ini juga merupakan bentuk syukur kami selama setahun ini, semoga semua kegiatan berjalan lancar,” ujar Baharudin.
Plt Bupati menegaskan, melalui penjamasan ini, terkandung doa dan harapan agar seluruh warga Tulungagung senantiasa dianugerahi keselamatan, kemakmuran, dan keharmonisan.
“Tradisi hari ini menegaskan bahwa di tengah derasnya arus modernisasi tahun 2026, denyut nadi budaya dan penghormatan terhadap sejarah tetap tegak berdiri di Pendopo Kanjengan,” tandasnya.
Harapannya untuk kedepannya acara ini dapat memikat banyaknya wisatawan yang datang pada saat acara jamasan pusaka tombak kiai upas dan biasa menjadi warisan sejarah budaya yang wajib dilestarikan oleh penerus bangsa.









